Tak tanggung-tanggung, pemateri dalam kegiatan tersebut langsung dilakukan Walikota Banjarmasin Ibnu Sina didampingi Wakil Walikota Banjarmasin Hermansyah.

Dihadapan tim penilai yang terdiri dari Bapak Sudirman, Direktur Pengelolaan Sampah LHK, Prof Wibowo dari Institut Pertanian Bogor, Prof Hermawan dari Universitas Udayana, serta Prof Heru dari Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi, Ibnu Sina dan Hermansyah secara gamblang membeberkan beragam inovasi yang dimiliki Kota Banjarmasin agar menjadi ramah lingkungan diantaranya, upaya mereduksi sampah dengan memberdayakan 196 bank sampah, yang setiap bank sampah minimal mampu mereduksi rata-rata 1,5 ton perbulan dengan omset rata-rata 2,5 juta perbulan. “Sejak 2016 Banjarmasin telah membentuk Bank Sampah Induk dan telah mengurangi penggunaan plastik dengan cara mengeluarkan Perwali nomor 18 tahun 2016 tentang Larangan Penggunaan Plastik di pasar modern dan mini market per 1 juni 2016,” ucap Ibnu Sina dihadapan Tim Penilai.

Dengan adanya Perwali nomor 18 tahun 2016 tentang Larangan Penggunaan Plastik di pasar modern dan mini market itu, lanjutnya, maka jumlah pengurangan kantong plastik di Kota Banjarmasin sekira 51.295.445 lembar per bulan.

Tak hanya itu, Ibnu Sina juga menjelaskan tentang keberadaan 14 TPST milik Pemko Banjarmasin yang membantu mengurangan sampah hingga sekira 4.045 ton per bulan. “TPST ini juga membantu kelompok masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan cara mencacah sampah dan menjadikan sampah sebagai komposter,” jelasnya.

Hal lain yang juga menjadi fokus dalam materi presentasi orang nomor satu di Kota Banjarmasin itu tentang keberadaan taman vertikal, pemeliharan dan pembersihan sungai dengan menggunakan Kapal Biyuku dan Kapal Sapu-Sapu, kemudian pembentukan PD PAL sejak tahun  2006, pembangunan sanimas di 39 titik  dan 14 titik IPAL Komunial dengan 700 sr. “Upaya pengendalian pencemaran udara juga kami lakukan dengan cara melaksanakan kegiatan Car Free Day, memberlakukan angkutan BBM yang lulus uji emisi, kemudian uji emisi kendaraan bermotor, lalu uji emisi terhadap kegiatan sumber bergerak tidak bergerak, dan pemantauan kualitas udara di 5 titik sebanyak 2 kali setahun,” katanya.

Untuk inovasi dalam pengelolaan lingkungan hidup di Kota Banjarmasin, katanya lagi, saat ini telah dibangun TPA di kawasan Basirih dengan system control land fill. “Gas methane-nya  digunakan untuk pembangkit listrik PJU disekitar TPA dan dimanfaatkan sebagai pengganti LPG oleh masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar TPA,” terangnya.

Program lain yang juga dijelaskan Ibnu Sina saat itu adalah tentang program menuju sustainable city, penetapan kawasan pertanian berkelanjutan, penyiapan Bus Rapid Transport (BRT) dan pembangunan jalur kereta api, program green building (khususnya perkantoran pemerintah), mengembangkan tanaman hidroponik, penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), lomba angkat lumpur, lomba maharagu (memelihara) sungai, mengembangkan transportasi sungai, pemberlakuan aturan tentang bangunan panggung, pengembangan pasar sehat di 3 pasar percontohan dan menetapkan garis sempadan sungai. “Tujuan kami jelas ingin menjadikan kota Banjarmasin sebagai kota Pariwisata, dengan memperindah kota dan sungai-sungai khususnya, sehingga menjadikan kota Banjarmasin sebagai Kota Sungai Terindah di Indonesia,” pungkasnya.

Dalam kegiatan tersebut terlihat hadir juga Ketua DPRD Kota Banjarmasin Iwan Rusmali, Sekda Kota Banjarmasin Hamli Kursani, dan sejumlah kepala OPD terkait lingkup Pemko Banjarmasin.(humpro-bjm)