Lebih lanjut diceritakan Ibnu Sina, di Museum Alquran, juga tersimpan reflika Mushaf Utsmani. Untuk Mushaf Utsmani yang aslinya, terangnya, hingga kini masih tersimpan di Museum Topkapi di Turky. “Di Museum tersebut kami juga melihat file berupa proses penulisan dari masa lampau hingga masa kini, kemudian kami juga melihat mushaf Alquran hanya 60 lembar dimana 1 juznya terdiri hanya 2 halaman dan setiap barisnya selalu diawali dengan huruf alif,”ujarnya.

Hal lain yang juga diceritakan orang nomor satu di kota seribu sungai itu tentang banyaknya mushaf yang ditulis dengan tinta emas murni yang dicairkan. “Penulisnya adalah penduduk Afganistan. Mereka menulisnya dilembaran pohon kayu dan lembaran plat besi, dan sewaktu dibawa, menggunakan 4 ekor unta,” terangnya.

Selain tentang sejarah penulisan Alquran, bebernya, di museum tersebut juga ditampilkan pula Alquran digital dan pembelajaranAlquran secara online yang diasuh langsung oleh para penghapal Alquran di Masjid Madinah yang bisa diikuti dari seluruh dunia.

Sebeluim mengakhir kunjungannya dimuseum tersebut, Ibnu Sina mendapat kenang-kenangan sebuah Alquran tulisan tangan yangditerimanya langsung dari si penulisnya. “Saya juga diminta menuliskan pesan dibuku tamu, dan setelah saya lihat di lembaran lainnya tertulis juga pesan dari Gubernur Jakarta terpilih, Anis Baswedan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ibnu Sina dan rombongan jamaah kloter 1 Banjarmasin berkesempatan memanfaatkan program arbain atau sholat 40 waktu (8 hari) di Masjid Nabawi, Kota Madinah Almunawwarah.

Dan sebagai balasannya, Ibnu Sina juga mengundang pihak Museum Asmaul Husna, Madinah, ke Kota Banjarmasin.(humpro-bjm)