Kedatangan tim yang terdiri dari Dr Juliet Willets, Marcus Howard, Jan Edward dan Nikhilesh Bhattarcharyya, diterima langsung oleh Sekda Kota Banjarmasin Hamli Kursani. "Pemerintah daerah menginginkan Banjarmasin tidak hanya mendapatkan hibah, di tapi ke depannya bisa mendapatkan kerja sama permanen dari Pemerintah Australia dalam menangani permasalahan limbah," ujarnya, Selasa (10/10) Kerjasama permanen itu, terangnya, bisa berbentuk kerjasama antar dua kota yang dalam hal ini antara Pemko Banjarmasin dan Pemerintah Australia, sehingga penanganan limbah di Kota Banjarmasin dapat tertangani dengan maksimal. Hal senada juga dikatakan Asistem Bidang Perekonomian Setdako Banjarmasin H Hamdi, dari 10 titik pantauan limbah yang dipasang di kawasan Sungai Martapura dan Sungai Barito, pencemaran terbanyak berasal dari limbah domestik. "Untuk menangani masalah tersebut, kita sangat memerlukan bantuan," katanya. Sementara itu, Direktur PD PAL Kota Banjarmasin H Rahmatulah, menjelaskan, hingga saat ini jumlah sambungan yang terpasang sebanyak 188 unit, dengan rincian 55 unit sudah selesai terpasang, dan 133 unit proses pengajuan verifikasi. Program Hibah Air Minum dan Air Limbah dari Departemen of Foreign Affair and Trade (DFAT), Australia, dimulai sejak tahun 2013 lalu yang kemudian dilanjutkan hingga tahun 2020. Bentuk bantuan yang diberikan pemerintah Australia itu berupa sambungan pipa sanitasi sebanyak 2900 sambungan. Kegiatan yang dilaksanakan di ruang Rapat Berintegrasi Balai Kota Banjarmasin itu, dihadiri juga Kepala Bakeuda Kota Banjarmasin Subhan Noor Yaumil, Kepala Bappeda Kota Banjarmasin Sugito Said, dan jajaran PDAM Kota Banjarmasin.(humpro-bjm)