Ibnu Sina mengatakan, Kota Banjarmasin itu kekuatannya ada pada sungai. Untuk itu, keberadaan sungai dan keunikan di kota ini perlu terus dipelihara dan dipertahankan. "Modern itu harus, tapi yang tradisional tetap harus dilestarikan," ucapnya. Melestarikan ketradisionalan dan keunikan itu, lanjutnya, sangat diperlukan dengan tujuan diantaranya untuk menjaga adat budaya dan kearifan lokal, dan juga untuk menarik minat wisatawan datang mengunjungi Kota Banjarmasin. "Penurut Prof Theo, sesuatu yang biasa bagi kalian, tapi bagi ,kami (wisatawan) sangat luar biasa," ujarnya. Kegiatan diskusi ini, terangnya, sangat bagus sebagai masukan bagi jajaran Pemko Banjarmasin untuk membangun perencanaan kota lebih baik lagi ke depannya. Dept Arsitektur Lanskap IPB, Vera Damayanti mengatakan, dalam penelitian yang dilakukan terhadap kota seribu sungai ini, diketahui dahulu ada sebuah benteng yang lokasinya bermuara Sungai Martapura. Lokasi benteng tersebut, jelasnya, secara pasti ada, tapi sudah tergerus oleh waktu. Sedangkan fungsi dari benteng tersebut, katanya lagi, sebagai pos jaga dan pintu keluar masuk pemeriksaan kapal dan pemungutan uang tol. "Keberadaan benteng han van Tol itu sekitar tahun 1817. hal tersebut diperkuat dengan ditemukannya koin peninggalan zaman Belanda. Selain sebagai pos jaga dan untuk memungut uang tol, benteng itu juga untuk menghindari penyelundupan," terangnya peneliti perubahan kota Banjarmasin dari waktu ke waktu ini. Sebelum kegiatan berakhir, Walikota berkesempatan memberikan cendera mata kepada Prof Theo berupa kain sasirangan khas Kota Banjarmasin dan plakat.(humpro-bjm)